Skip to main content

5 Kebiasaan Berbahaya yang Anda Lakukan Setelah Makan

Ilustrasi gangguan pencernaan.

Setelah makan siang atau malam, kebiasaan apa yang seringkali Anda lakukan? Menonton TV, berbaring, mengobrol, bermain gadget, atau melakukan aktivitas lainnya? Tahukah Anda, sebenarnya tidak semua kebiasaan-kebiasaan tersebut baik untuk Anda.

Ya, setelah makan, beberapa orang memiliki kecenderungan untuk berbaring, menonton TV, atau sekadar bersantai, tanpa mengetahui bahwa ini sebenarnya adalah kebiasaan buruk yang bisa sangat berbahaya bagi kesehatan mereka secara keseluruhan.

Untuk itu, kami mengingatkan agar Anda jangan sekali-sekali melakukan kebiasaan-kebiasaan tersebut, baik setelah makan siang ataupun makan malam. Selain kebiasaan-kebiasaan di atas, ada beberapa kebiasaan lainnya yang tak kalah berbahaya jika Anda lakukan setelah makan. Berikut daftarnya.

1. Merokok
Merokok setelah makan sangat berbahaya bagi kesehatan. Sangat penting untuk memberi jeda beberapa jam setelah makan, baru Anda merokok, karena rokok mengandung nikotin yang dapat mengikat oksigen berlebih untuk pencernaan, sehingga memungkinkan tubuh untuk menyerap lebih banyak zat karsinogen dari biasanya. Menurut beberapa penelitian, merokok setelah makan sama saja seperti Anda merokok 10 batang rokok sekaligus. Selain itu, kebiasaan ini juga dapat meningkatkan risiko penyakit paru-paru dan kanker usus.


2. Makan buah
waktu terbaik untuk mengonsumsi buah adalah sebelum makan, yaitu saat perut kosong, mengingat fakta bahwa buah-buahan memerlukan enzim yang berbeda untuk mencerna. Selain itu, gula yang terkandung dalam buah membutuhkan lebih banyak waktu untuk dapat benar-benar diserap. Di sisi lain, makan buah setelah makan dapat menyebabkan mulas, sendawa, dan gangguan pencernaan.

3. Tidur
Jika Anda langsung tidur setelah makan, hal ini akan membuat Anda mengalami ketidaknyamanan, kembung, dan gangguan pola tidur, karena kebiasaan ini akan memaksa perut Anda melakukan pembakaran di malam hari. Universitas Ioannina Medical School melakukan penelitian yang membuktikan bahwa orang-orang yang menunggu waktu lebih lama untuk tidur setelah makan, berisiko lebih kecil untuk menderita stroke. Jadi, pastikan Anda sudah tidak makan setidaknya beberapa jam sebelum tidur.

4. Mandi
Mandi tepat setelah makan dapat meningkatkan aliran darah di kaki dan tangan, sehingga akan mengurangi aliran darah di perut. Hal ini akan melemahkan sistem pencernaan Anda dan menyebabkan sakit perut.

5. Minum teh
Anda tidak boleh minum teh setelah makan malam karena dapat mengganggu penyerapan zat besi. Teh mengandung asam tanat yang dapat mengikat protein dan besi yang terkandung dalam makanan kita. Hal ini sudah dibuktikan secara ilmiah, bahwa dalam kebanyakan kasus hal ini menghasilkan 87 persen penurunan penyerapan zat besi. Dan kekurangan zat besi dapat menyebabkan anemia, akibatnya kulit menjadi pucat, nafsu makan menjadi buruk, nyeri dada, kaki dan tangan dingin, pusing, lemah, dan mengalami kelelahan ekstrem.

Sumber: Healthy Food Vision

Comments

Popular posts from this blog

Setiap Pagi, Minum Segelas Air Ini dan Kanker Akan Hilang

Ilustrasi minuman pemusnah kanker. Para ahli medis menemukan bahwa hingga 95 persen dari semua penyakit kanker memiliki lingkungan asam di belakangnya. Mereka juga menemukan, kanker tidak dapat bertahan hidup di lingkungan basa, di mana tingkat pH-nya 7,36 atau lebih. Dan hal terburuknya adalah asidosis (keasaman) tidak hanya terhubung dengan perkembangan kanker. Asidosis juga dikaitkan dengan penyakit dan masalah kesehatan lain, seperti osteoporosis, diabetes, penyakit jantung, dan hampir semua penyakit kronis lainnya yang banyak diderita saat ini. Untuk itu, kami akan menunjukkan cara untuk membuat air alkali detoksifikasi, dengan lemon dan sedikit garam. Resep ini sangat sederhana, dan Anda hanya memerlukan waktu 5 menit untuk mempersiapkannya.  Baca juga: 3 Bahan Alami Ini Efektif Bunuh Kanker Rahim Apakah Anda tahu, bahwa lemon memiliki keseimbangan pH yang kuat? Meskipun lemon memiliki rasa asam, namun lemon memiliki tingkat basa yang kuat, yang mampu mengatur pH tubuh. ...

Ternyata, Nangka Bisa Obati Kanker

Buah nangka. Nangka merupakan buah terbesar di dunia dengan berat bisa mencapai 45 kilogram. Buah ini memiliki kulit hijau atau kuning tebal dan keras dengan daging berwarna kuning jika sudah masak. Karena tekstur, fleksibilitas dan kandungan gizinya, buah ini sangat populer di kalangan vegan.  Buah nangka kaya akan nutrisi, seperti serat, kalium, magnesium, kalsium, zat besi, vitamin A, B6 dan C, serta protein. Secangkir nangka akan memberikan 25 persen vitamin B6 yang direkomendasikan untuk kebutuhan tubuh. Kanker kolorektal merupakan penyakit yang sulit untuk diobati. Dan menurut National Cancer Institute, penyakit ini telah menjangkiti lebih dari 1,17 juta orang di Amerika Serikat setiap tahunnya. Untungnya, nangka berhasil mengobati jenis kanker ini dan memperkuat organ tubuh Anda. Lalu, apa lagi yang bisa dilakukan nangka untuk tubuh Anda? Mencegah kanker usus Nangka kaya akan fitonutrien, isoflavon, lignan, dan saponin yang memiliki sifat antikanker yang kuat. Nutrisi ini ak...

Bahan Alami Ini Bersihkan Paru-paru dari Debu, Bakteri & Bahan Kimia

Ilustrasi paru-paru. Pertama, Anda perlu tahu bahwa banyak hal yang dapat menyebabkan organ pernapasan kita bermasalah, seperti alergi, asma, oganisme berbahaya, dan menghirup berbagai polutan. Gejala paling umum dan tanda-tanda peringatan jika terjadi masalah pernapasan adalah, sesak di dada, kesulitan bernapas, hidung tersumbat, iritasi tenggorokan, dan lain-lain. Jika Anda mengalami gejala-gejala tersebut, atau orang-orang di sekitar Anda mengalaminya Anda bisa membantunya dengan memberikan bahan alami yang satu ini. Bahan alami apakah yang dimaksud? Ya, rempah-rempah menakjubkan tersebut adalah oregano. Ini merupakan 'alat' yang ampuh untuk menjaga kesehatan paru-paru Anda. Selain handal, efektif dan aman, oregano kaya akan carvacrol, flavonoid, dan senyawa terpen, yang semuanya memiliki sifat dekongestan dan antihistamin alami. Sebuah studi baru-baru ini yang dilakukan oleh sekelompok peneliti di Institute of Technology Medical Center, Departemen THT di Israel, telah mengu...